Sunnah
Nabi, Dihina Umat Nabi
“Ih,
jenggotnya panjang dan tebal banget kaya kambing, Ya?”
“Ih, celananya tidak
menutup mata kaki, kamu teroris, Ya?”
Berbicara tentang sunnah, bisa
dikatakan zaman sekarang adalah zaman yang krisis sunnah dan teladan?,
kenapa?. Anak-anak manusia sekarang
lebih memilih selebriti sebagai idola dan teladan hidupnya bahkan menjadikan
gaya berpakaian, berpenampilan, berperilaku, dan gaya hidup mereka dijadikan
sunnah baru oleh umat muslim era sekarang.
Tak usah berlayar jauh keujung pulau
atau menuju ke ujung bumi. Sejenak, sobat boleh lihat dan merenung. Tak usah
lihat ke pribadi orang lain, coba liat diri sendiri dan tanyakan padanya dengan
penuh kejujuran. Lebih banyak mana lagu yang kita hafal dibanding dengan hadits
nabi yang kita hafal?, dan lebih banyak mana pengetahuan tentang kehidupan
artis yang terus kita update di
televisi ataupun internet dari pada kehidupan nabi?, dan pertanyaan yang
terakhir adalah, sudah sejauh mana kita meneladani akhlaq nabi dan menjalankan
sunnahnya?.
Faktanya, banyak dari kita hanya
sebatas tahu siapa nabi kita, dan agama apa yang dibawanya?, ya, hitung-hitung
kalau ditanya biar kita bisa menjawab dan mereka yang bertanya bisa tahu kalau
kita dalah seorang muslim. Kita merasa tak perlu tahu kehidupannya yang harus
kita teladani dan sunnahnya yang menjadi warisan yang harus kita jaga.
Atau yang lebh ironis lagi, kita
tahu siapa nabi kita, apa agama yang dibawanya, apa saja keteladannya dan
sunnah-sunnahnya yang harus kita jaga. Bahkan kita sudah menghafal banyak hadits-haditsnya.
Namun sayang, kita rela menukar dan menanggalkan sunnah dan keteladanannya
hanya untuk menghindari kalimat-kalimat setan seperti ini,
“Ih, jenggotnya panjang dan tebal banget
kaya kambing, Ya?”
“Ih, celananya tidak menutup mata kaki,
kamu teroris, Ya?”
Sobat, Islam tak sebatas tahu siapa
nabi, kitab dan Tuhan kita. Namun Islam menuntut hadirnya kecintaan dan
keimanan. Allah SWT berfirman :
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. 3:31)
Ayat dengan jelas
memerintahkan kita untuk mengikuti Rosul, kenapa? Allah berfirman :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yg baik bagimu (yaitu) bagi orang yg mengharap
(rahmat) Allah & (kedatangan) hari kiamat & dia banyak menyebut
Allah”. (QS. Al-Ahzab Ayat 21)
Jadi, sudah jelaskan sob, kenapa
Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk mengikuti Rosullullah SAW. Bukan
tanpa alasan, karena dalam diri Rosulullah ada suri teladan yang baik. Bukan
selebriti yang layak untuk kita jadikan tuntunan dan teladan. Bukan selebriti
yang layak dan pantas kita jadikan idola, lantas siapa?, dialah nabi besar kita
Muhammad SAW.
Nah,
mulai sekarang, jika ada yang menghina kita seperti kambing karena berjenggot.
Maka sesungguhnya dia telah menghina sunnah nabinya sendiri dan katakanlah, “aku sedang menjalankan sunnahnya, dan
kamupun harus begitu jika ingin selamat”. Dan percayalah, teladan dan
sunnah nabi adalah gaya hidup paling ideal yang pernah ada.
Bahkan
seorang Mahatma Gandhi, bertutur :
“Ajaran yang dibawa oleh Muhammad
adalah peninggalan yg paling Bijaksana bukan hanya untuk Muslim tapi untuk
seluruh Umat manusia.” Dan bukan hanya itu, Michael H. Hart penulis non Muslim
“Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” berkata :
“Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar
Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca
dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada
keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang
berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun
ruang lingkup duniawi.”
Maka, seharusnya kita
malu dengan mereka orang-orang kafir tidak mengimaninya tapi mereka mengakui
kebesaran keteladanannya dan bahkan mengaguminya. Lantas, kita adalah seorang
muslim, orang yang mengimaninya sepenuh hati. Namun, sudah berapa jauh kita
meneladai beliau. Tanyakan pada pribadi masing-masing.
