“PRANGG..”
gelas mahal itu terjatuh bebas dari lempeng meja mahoni. Menabrak lantai
keramik keras. Maka lulu lantaklah bentukan gelas itu, membahana menyeruak di
kamar luar David. Pagi itu masih sangat buta, namun ini kali ketujuh David
terbangun dari lelapnya. Tubuhnya bergetar penuh keringat. Sudah 3 bulan ini,
David memimpikan mimpi yang sama. Selalu sama, dan ini membuat David sangatlah
ketakutan. Bagai kelinci putih dikejar pemangsa handal. Mimpi itu selalu sama,
David berjalan di gurun pasir berwarna hitam kemedian ditemuinya buku catatan
berwarna biru mudah. Sebelum membukanya tiba-tiba terdengar suara tangis
perempuan. Sangat memilukan hati. Rupanya pemilik tangis itu adalah wanita
berhijab putih besar yag terus menundukkan pandangnya, David yang melihatnya
langsung menyeret langkahnya mendekati sosok itu. Namun tiba-tiba langkah David
terhenti tatkala api menyambar wnita itu, membakar hijab putih dan pakaian
panjangnya. Membakar habis, makan menjelmalah wanita itu menjadi waita ynang
berpakaian mini. Jelita sangat menawan. Namun, tangis di wajahnya semakin muram
semakin memilukan.
Semakin ingin mendekati sosok itu,
tiba-tiba salib besar menyembul dari tanah diantara sosok wanita itu dan David.
Langkah Davidpun terhalang, dan kemudian menyambarlah kilat yang kemudian
membakar salib menjulang itu dan tubuhya. Dan kemudian muncullah cahaya terang
yang mengaburkan segala pandang. Cahaya itu Maha Terang. Dan membahanalah suara
syahdu yang mengucap “Allah, Allah, Allah” dan kemudian Davidpun terbangun. Ketakutan,
entah takut akan apa.
Pukul 02.00, David takut untuk
kembali tidur. Keringat dingin masih membasuh tubuhnya, nafasnya beradu.
Diambilnya salib dan tak hentinya lisan David mengucap ampun dan mohon
perlindungan pada Tuhannya. Tangis pilu tersembul di wajah tampannya. Rasa
takut kini sempurna mendekap sosok David yang ceria dan tegar. Mimpi ini sudah berlangsung tiga bulan, dan
malam ini dia sudah tujuh kali memimpikan mimpi yang sama. Tak bisa digambarkan
lagi bagaimana suasana lubuk David saat itu.
“Saya
selalu memimpikanya, Bapa. Apa dosa hamba?” ucap David menutup cerita
panjangnya. Pendeta itu memejamkan matanya,memikirkan sesuatu yang berat. Wajah
keriputnya semakin terlihat mengerikan. Serius.
“Keluarlah,
Nak. Aku tidak bisa membantumu” wajah pendet aitu terlihat gusar, resah. David
yang tidak mengerti hanya bisa mengernyitkan dahi. Penuh tanya. Seperti ada
yang disembunyikan pendeta tersebut dari David.
Langkah David kemudian membawanya ke
perpustakaan, disitu dia mengobrak-abrik rak mencari buku tentang tafsir mimpi.
Nihil, buku tersebut tidak membantu sama sekali. Sebenarnya, dia bisa saja
pergi ke peramal untuk menanyakan perihal mimpinya. Tapi sudah lama dia ditipu
oleh peramal, baginya peramal adalah pembohong yang dibayar oleh pelanggannya.
Hari semakin sore, tapi langit tak
berjingga, merah ataupu warna mempesona khas senja seperti hari biasanya. Hari
ini mendung. Senja tak sememikat seperti hari-hari biasanya. Angin kencang
sesekali menggoyangkan rambut panjang David. Banyak orang-orang disekitar jalan
yang panik bersiap digempur hujan yang bisa datang kapan saja. Sial, david tak
membawa payung. Langahnyapun dipacu gesit mencari tempat anti hujan.
Toko bunga. Di toko bunga itu ada
kursi panjang. David memlih berteduh disitu. Agar tak malu, dia juga membeli
sekuntum mawar putih. Tepat, saat David sempurna duduk di toko bunga tersebut.
Hujan menyambar lempeng bumi. Dalam hati David mengucap syukur. Tak disangka,
disamping David duduk jga seorang muslimah berjilbab putih panjang. Wajahnya
gusar melihat hujan. Seperti ingin bertanya pada langit kapa hujan kan reda
sehingga dia bisa kembali pulang. Ditangannya ada serajut mawar merah indah.
David terus saja memperhatikan
wanita disampingnya tersebut. Tak berapa lama, wajah anita itu tiba-tiba cerah.
Seperti menyembul mentari kedua di wajahnya. Dikeluarkannya payung dari tas
hitamnya. Dan diapun beranjak pergi ke tengah hujan tepat saat David ingin
membuka mulut membuka salam perkenalan.
“Braakk.”
Setelah wanita itu sudah beranjak cukup jauh. David mendengar ada
sebuah benda jatuh tepat di posisi dimana wanita tersebut tadi duduk. Sebuah
buku harian biru. Tunggu, sosok buku harian tersebut sangat mirip seperti buku
harian yang dimimpikan David. Persis. Bahkan seperti dibawa Tuhan dari dunia
mimpi ke dunia nyata. David semoat terdiam menatap buku harian biru muda yang
kini berada ditangannya itu. Setelah tersadar,
“Woii,
neng buku hariannya ketinggalan,” teriak David memanggil wanita perkerudung
putih yang suah beranjak jauh.
Kini hati David kian tak
karuan. Pertama, bagaimana bisa buku harian yang ditinggal oleh wanita tersebut
persis seperti yang ada dalam mimpinya?. Apakah wanita tersebut juga wanita
yang dimaksud mimpinya?, entahlah. Tapi setidaknya itu membuat David semakin
dekat untuk tahu yang dimaksud mimpi aneh berulangnya tersebut.
Dengan
gesit dan tanpa alat pelindung hujan jenis apapun. Dia bawa buku harian biru
muda tersebut, di kempitnya agar terlindung dari basah hujan. Dikejarnya wanita
itu, walau sosok wanita itu semakin kecil dipandang.
Hujan semakin ganas menyerbu lempeng
bumi. Tubuh David basah kuyup, tapi langkahnya sudah mantap bak baja untuk
mengembalikan bku harian itu dan menemukan arti mimpinya itu. Akhirnya, David
menemukan rumah wanita tersebut. Dadanya smakin sesak oleh tabuhan jantung yang
tak karuan. Antara senang, tegang dan takut. Entahlah, susah seklai
menggambarkan suasana hati adsurb seperti itu.
Dengan
langkah ragu, diseretnya langkah ke pelataran rumah wanita itu dan dia
mengetuknya.
“Tok,
tok, tok,” tak ada jawaban. Hening, hanya suara hujan yang terdengar.
“Tok, tok, tok,” untuk kedua kalinya
belum juga ada jawaban. Hati kecil David mengutusnya untuk kembali saja. Tapi,
hatinya yang lain membungkam sempurna suara hati kecil itu dan digantikannya
dnegan tekat untuk terus maju.
“Tok,
tok, tok, ” diketknya untuk ketiga kali dan wanita itupun membuka pintunya.
Kini jilbabnya berganti merah muda, cocok sekali dengan wajahnya yang jelita.
“Ya,
ada apa ya?, oh maaf silahkan masuk,” David semakin gemetaran tak karuan.
“Owh,
tidak usah disini saja. Saya hanya ingin mengembalikan buku harian ini ke kamu.
Kamu meninggalkannya di toko bunga, ” ucap David sambil menunjuk buku harian
yang di bawahnya.
Sejenak,
wanita itu menegrnyitkan dahi menatap buku harian itu pelan-pelan. Menelitinya
dengan tangan. Diraba. Dan dibukanya buku harian itu.
“Apa
anda sudah membaca buku harian ini?” tanya wanita itu meyelidik.
“Oh
tidak, tentu saja tidak,”
“Bagus,
sebaiknya jangan karena buku harian ini mungkin sangat pribadi dan pasti
orangnya akan snagat mencarinya.”
“Maksudmu,
ini bukan buku harianmu?”
Wanita itu menggeleng dnegan seulas senyuman manis. Demi mendengar
itu David langsung tertunduk sambil mengambil buku harian biru muda yang
dikembalikan oleh wanita berkerudung pink di depannya itu. Hatinya hancur bagai
istana pasir digempur ombak lautan. Tafsir mimpinya semakin jauh dia gapai.
Lantas, milik siapa buku harian yang persis dengan yang ada dalam mimpinya ini?
-Bersambung-
