Beribu orang berteriak keras mengerumuni bintang itu. Rupanya hukum
gula dan semut sedang berlaku disini. Tentu saja bintang itu adalah gula dan
para penonton yang teriak seperti kesetanan itu adalah semutnya. Artis yang sedang
dikerebungi itu adalah sosok yang sekarng dipuja-puja. Bukan karena dia adalah
malaikat, bukan juga karena dia adalah seorang tuhan. Dia hanyalah lelaki belia
yang beruntung. Beruntung karena tuhan meniupkan takdir di pita suaranya
sehingga suaranya bisa tersengar merdu. Antara dia dan para penonton hanya
punya perbedaan yang tipis, dia mendapatkan takdir indah itu dan para penonton
tidak.
Malam itu,
rembulan tak namapak. Begitu juga dengan gemintang. Malam tamapak kelam,
hembusan angina kian kencang membawa hawa dingin seraya memberi pesan kepada
setiap insan yang ditabraknya bahwa malam ini akan turun hujan. Namun, rupanya
para manusia membangkang dan tetap kekeuh untuk keluar untuk mendengar suara
emas anak laki-laki itu.
“Aku akan
datang ke konsernya, WALAUPUN BADAI AKAN DATANG MALAM INI.” Ucap salah seorang gadis yang dengan mantap
melangkah menuju tempat konser. Tentu saja mereka tak sendiri, mereka hadir
beserta ribuan bahkan ratusan ribu orang-orang yang ikut memuja penyanyi muda
ini. Bukan untuk mengemis cinta, tapi hanya untuk melihatnya lebih dekat dan
mendengarkan suaranya yang mebuat orang-orang ini tergila-gila. Waktu bergulir
gesit, konser berlangsung dengan sangat ramai. Sepanjang konser orang-orang
yang tergila-gila ini tak pernah berhenti berteriak-teriak bersorak kegirangan
ataupun bernyanyi bersama penyanyi yang mereka puja-puja. Bahkan saat langit
menjatuhkan beribu bulir-bulir air kearah merekapun, tak membuat mereka
berhenti.
Konser
berakhir, hujan belum juga reda. Semua orang-orang yang tergila-gila ini basah
kuyup oleh beribu atau bahkan berjuta buliran air yang jatuh dari angkasa. Lelaki belian yang dipuja-puja inipun
beranjak pergi sambil mengucapkan salam terakhirnya yang disambut meriah oleh
para penggemarnya. Sejenak orang berpikir bahawa hidup lelaki itu sangat
sempurna indah. Betapa tidak, uang terus berdatangan, suaranya indah, banyak
disukai orang. Dan mungkin banyak orang yang ingin memiliki hidup sepertinya,
sehingga mereka tak prnah berhenti merengek kepada tuhan. Tapi sayang mereka
salah, hidup lelaki muda yang bersuara indah itu tak sesempurna yang ada di
kepala mereka. tidak.
12 bulan yang
lalu, di malam yang sama. Di mendung yang sama. Lelaki muda itu terduduk dengan
kepala yang layu. Dia tertunduk dalam. Didepannya, ada laki-laki tua yang
berambut agak putih. Wajahnya terlihat marah.
“Will, ayah
sangat malu denganmu. Ayah kecewa punya anak bodoh sepertimuayah tidak percaya
sudah dua kali kau tidak tembus ke universitas teknik ternama itu, dalam
sejarah keluarga ayah tak pernah ada yang tidak tembus. Kecuai kamu Mengerti
kamu?” lelaki tua itu teriak ganas. Bagai halilintar. Yang dimarahi hanya bisa
terdiam takut.
“Ingat Will,
kamu ini terlahir di keluarga terhormat, keluarga professor fisika yang sebntar
lagi akan dianugrahi nobel. Lihat kakak-kakakmu yang sebentar lagi lulus, dan
sudah menanda tangani kontrak kerja diluar negeri. Dan mereka membuat ayah
bangga. Dan kamu?, ayah tak percaya punya nak bodoh sepertmu.”
“Ayah, Will
tidak bodoh.”
“Oh, jadi anak
pintar mana yang ditolak universitas ternama?”
“Ayah, Will
tidak bodoh. Will hanya tidak suka teknik. Will tidak terlahir untuk itu, Ayah.
Kalaupun Will diterima, Will tidak yakin bisa menjadi teknisi yang bagus. Ayah,
apakah salah kalau berbeda dari keluarga ayah. Apakah Will salah kalau Will
ingin memberi kesan yang baru untuk keluarga ini?”
Lelaki tua itu semakin berang, emosinya telah mencapai titik puncak.
Lelaki muda yang bernama Will itu hanya bisa menangis. Ingin dia protes ke
Tuhan atas jalan hidup yang dirasanya sangat tidak adil itu.
Langit
menjatuhkan hujan jutaan bulir air itu lagi. Dibawahnya, ada anak laki-laki
sedang menangis. Batinnya kacau. Di benci jalan hidupnya. Dia tak suka dengan
takdir yang tertulis untuknya.
Will kini
berdiri diatas jembatan yang dibawahnya mengalir deras sungai yang kedalamannya
lebih dari dalamnya sakit di hati Will. Lelaki muda itu ingin mengakhiri
hidupnya. Dia tak bisa hidup seperti ini terus. Dibawah tekanan dan paksaan.
Sangat menyiksa. Tapi, Tuhan punya caranya sendiri. Kita mungkin punya rencana,
tapi lagi-lagi, terjadi atau tidak, itu sepenuhnya da di genggaman Allah. Allah
tak ingin pemuda ini mati sekarang, tak beginilah cara Allah membuktikan
kuasanya. Kau tahu apa bukti itu?, lihatlah pemuda itu 12 bulah kedepan.
Dan malam itu,
setelah konser usai. Hujan di malam itu mengingatkannya pada kejadian itu, dia
ingat ayahnya, dan di dalam sedih yang membuncah. Dibalik malam yang basah dan
menusuk. Dan di balik tangisnya yang menyayat.
“Ayah, akau
rindu ayah. Maafkan Will, Will tak bisa menjadi bintang yang kau pinta. Will
bukanlah bintang yang kau pinta.” Ucap lelaki muda itu seraya mengusap air
matanya.
