Apa yang anda cari ?

konten dari Teknologi, Marketing, Adsense, Tips, Blogger, Keuangan, Jomblo dan lainnya
Ternyata, Sukses diawali dengan Huruf "S"

Bukan Bintang yang Kau Pinta

Beribu orang berteriak keras mengerumuni bintang itu. Rupanya hukum gula dan semut sedang berlaku disini. Tentu saja bintang itu adalah gula dan para penonton yang teriak seperti kesetanan itu adalah semutnya. Artis yang sedang dikerebungi itu adalah sosok yang sekarng dipuja-puja. Bukan karena dia adalah malaikat, bukan juga karena dia adalah seorang tuhan. Dia hanyalah lelaki belia yang beruntung. Beruntung karena tuhan meniupkan takdir di pita suaranya sehingga suaranya bisa tersengar merdu. Antara dia dan para penonton hanya punya perbedaan yang tipis, dia mendapatkan takdir indah itu dan para penonton tidak.
                Malam itu, rembulan tak namapak. Begitu juga dengan gemintang. Malam tamapak kelam, hembusan angina kian kencang membawa hawa dingin seraya memberi pesan kepada setiap insan yang ditabraknya bahwa malam ini akan turun hujan. Namun, rupanya para manusia membangkang dan tetap kekeuh untuk keluar untuk mendengar suara emas anak laki-laki itu.
                “Aku akan datang ke konsernya, WALAUPUN BADAI AKAN DATANG MALAM INI.”  Ucap salah seorang gadis yang dengan mantap melangkah menuju tempat konser. Tentu saja mereka tak sendiri, mereka hadir beserta ribuan bahkan ratusan ribu orang-orang yang ikut memuja penyanyi muda ini. Bukan untuk mengemis cinta, tapi hanya untuk melihatnya lebih dekat dan mendengarkan suaranya yang mebuat orang-orang ini tergila-gila. Waktu bergulir gesit, konser berlangsung dengan sangat ramai. Sepanjang konser orang-orang yang tergila-gila ini tak pernah berhenti berteriak-teriak bersorak kegirangan ataupun bernyanyi bersama penyanyi yang mereka puja-puja. Bahkan saat langit menjatuhkan beribu bulir-bulir air kearah merekapun, tak membuat mereka berhenti.
                Konser berakhir, hujan belum juga reda. Semua orang-orang yang tergila-gila ini basah kuyup oleh beribu atau bahkan berjuta buliran air yang jatuh dari angkasa.  Lelaki belian yang dipuja-puja inipun beranjak pergi sambil mengucapkan salam terakhirnya yang disambut meriah oleh para penggemarnya. Sejenak orang berpikir bahawa hidup lelaki itu sangat sempurna indah. Betapa tidak, uang terus berdatangan, suaranya indah, banyak disukai orang. Dan mungkin banyak orang yang ingin memiliki hidup sepertinya, sehingga mereka tak prnah berhenti merengek kepada tuhan. Tapi sayang mereka salah, hidup lelaki muda yang bersuara indah itu tak sesempurna yang ada di kepala mereka. tidak.
                12 bulan yang lalu, di malam yang sama. Di mendung yang sama. Lelaki muda itu terduduk dengan kepala yang layu. Dia tertunduk dalam. Didepannya, ada laki-laki tua yang berambut agak putih. Wajahnya terlihat marah.
                “Will, ayah sangat malu denganmu. Ayah kecewa punya anak bodoh sepertimuayah tidak percaya sudah dua kali kau tidak tembus ke universitas teknik ternama itu, dalam sejarah keluarga ayah tak pernah ada yang tidak tembus. Kecuai kamu Mengerti kamu?” lelaki tua itu teriak ganas. Bagai halilintar. Yang dimarahi hanya bisa terdiam takut.
                “Ingat Will, kamu ini terlahir di keluarga terhormat, keluarga professor fisika yang sebntar lagi akan dianugrahi nobel. Lihat kakak-kakakmu yang sebentar lagi lulus, dan sudah menanda tangani kontrak kerja diluar negeri. Dan mereka membuat ayah bangga. Dan kamu?, ayah tak percaya punya nak bodoh sepertmu.”
                “Ayah, Will tidak bodoh.”
                “Oh, jadi anak pintar mana yang ditolak universitas ternama?”
                “Ayah, Will tidak bodoh. Will hanya tidak suka teknik. Will tidak terlahir untuk itu, Ayah. Kalaupun Will diterima, Will tidak yakin bisa menjadi teknisi yang bagus. Ayah, apakah salah kalau berbeda dari keluarga ayah. Apakah Will salah kalau Will ingin memberi kesan yang baru untuk keluarga ini?”
Lelaki tua itu semakin berang, emosinya telah mencapai titik puncak. Lelaki muda yang bernama Will itu hanya bisa menangis. Ingin dia protes ke Tuhan atas jalan hidup yang dirasanya sangat tidak adil itu.
                Langit menjatuhkan hujan jutaan bulir air itu lagi. Dibawahnya, ada anak laki-laki sedang menangis. Batinnya kacau. Di benci jalan hidupnya. Dia tak suka dengan takdir yang tertulis untuknya.
                Will kini berdiri diatas jembatan yang dibawahnya mengalir deras sungai yang kedalamannya lebih dari dalamnya sakit di hati Will. Lelaki muda itu ingin mengakhiri hidupnya. Dia tak bisa hidup seperti ini terus. Dibawah tekanan dan paksaan. Sangat menyiksa. Tapi, Tuhan punya caranya sendiri. Kita mungkin punya rencana, tapi lagi-lagi, terjadi atau tidak, itu sepenuhnya da di genggaman Allah. Allah tak ingin pemuda ini mati sekarang, tak beginilah cara Allah membuktikan kuasanya. Kau tahu apa bukti itu?, lihatlah pemuda itu 12 bulah kedepan.
                Dan malam itu, setelah konser usai. Hujan di malam itu mengingatkannya pada kejadian itu, dia ingat ayahnya, dan di dalam sedih yang membuncah. Dibalik malam yang basah dan menusuk. Dan di balik tangisnya yang menyayat.
                “Ayah, akau rindu ayah. Maafkan Will, Will tak bisa menjadi bintang yang kau pinta. Will bukanlah bintang yang kau pinta.” Ucap lelaki muda itu seraya mengusap air matanya.
               
               



7 Artikel Untuk Anda

Edit Post

Powered by Blogger - Template CaraSehat.Me