“Hai, Bagaimana kabarmu?, akhirnya kita bertemu heh.” Pria
berjaket bulu coklat itu menyapa pria berjaket kulit panjang disebelahnya
dengan kaku. Kikuk. Seperti seorang pria yang ingin melamar anak singa.
Selanjutnya hanya hening. Hanya ada desir angin musim dingin yang sungguh sudah
kelewat batas. Tokyo kini menjelma menjadi kota putih. Putih yang menusuk.
“Kenapa sejak pernikahanku kau menghilang, Ahlam ?” Pria berjaket
bulu coklat itu kembali bertanya. Kini nadanya sedikit lebih santai. Namun,
pria berjaket kulit itam panjang disampingnya masih mematung. Memandangi lautan
manusia yang sibuk memerangi musim dingin dari atas jembatan layang tempat
mereka kini berdiri.
“Kau tahu Faris, pertanyaanmu adalah retoris yang menusuk. Kau
sendiri sudah tahu alasannya, Bukan?” jawab pria berjaket kulit hitam dengan
penuh sinis. Campuran antara marah dan kecewa. Drama cinta memang tak selalu
saja indah. Beberapa tahun yang lalu, dua pria ini, Ahlam dan Faris
dipertemukan dalam satu pesantren kecil di kampung. Ketika itu umur mereka
adalah 10 tahun.
Faris yang anak orang kaya kurang terbiasa dengan segala
kesederhanaan yang ditawarkan pesantren untuk para tholibul ilmi-nya.
Faris tak pernah mau makan makanan yang dimasak pesantren, di kelas Faris hanya
terdiam dan sibuk menggambar ketika ustadz sedang menjelaskan. Dan pada
malam harinya, Faris tak pernah tidur. Dia terus saja menangis menagisi
perutnya yang lapar karena tak pernah dia isi dengan makanan. Bagaimana tidak?,
dia tak prnah mau sesuappun makan makanan pesantren.
Ahlam, yang kebetulan satu asrama dengan Faris. Demi mendengar
rengekan dan tangisan Faris langsung sigap bangun dan mendekati ranjang Faris.
Duduklah Ahlam disamping Faris sambil mencoba menghiburnya.
“Hai, anak orang kaya. Siapa namamu?” tanya Ahlam polos sambil
terus memandangi Faris yang masih sibuk dengan tangisnya.
“Apa kau lapar?” demi mendengar pertanyaan itu, Faris mengangguk
sambil terus menangis. Sebenarnya mudah saja menebak penyebab munculnya tangis
di wajah Faris. Lihatlah, sejak tadi dia terus memegangi perut mungilnya.
“Ayo ikut aku!” ajak Ahlam setengah berbisik. Dua anak mungil
itupun menyeret langkah mereka pelan-pelan keluar asrama. Kemudian dengan sigap
Ahlam membantu Faris menaiki tangga menuju atap asrama. Ya, disinilah akhir
tujuan mereka berdua. Atap asrama. Apa yang mereka lakukan disini?, mudah saja.
Pertama Ahlam akan menurunkan ember berisi yang diikat dengan katrol kearah
abang-abang nasi goreng yang persis berada di balik pagar asrama. Jadi, dari
atapnya satu-satunya jalan untuk bertransaksi dengan penjual nasi goreng
tersebut. Tak beberapa lama, penjual nasi goreng tersebut pun menaruh sebungkus
nasi goreng di ember yg terikat katrol dan dan Ahlam dengan sigap menariknya
keatas.
“Ini, makanlah anak orang kaya.” Ucap Ahlam sambil menyerahkan
sebungkus nasi goreng. Tanpa diperintah, dengan gesit nasi goreng itu dilahap
habis oleh Faris. Rupanya anak ini benar-benar sangat kelaparan.
Dari atap asrama itulah, Ahlam dan Faris menjalin persahabatan. Tak
ada waktu mereka habiskan kecuali berdua. Dan persahabatan itu berlangsung
hingga masuk ke jenjang kuliah. Mereka pun mengambil jurusan yang sama di
universitas ternama di Depok. Waktu terus bergulir bagai batu yang dilepas dari
Gunung Himalaya. Batu itu akan terus melesat, hingga dia berhenti, kembali ke
tempat titik akhir. Tanah. Kini, dua bersahabat itu menginjak semester akhir.
Berkat kerja keras mereka berdua, sidang skripsi mereka lancar. Tiggal menunggu
waktu wisuda saja. Bagi seorang mahasiswa, masa ini adalah aktu yang tepat
untuk mencari kerja atau seorang pendamping sehidup semati.
“Kau yakin ingin melamarnya, Lam?” mendengar tanya Faris, Ahlam
hanya termenung sambil menatap kosong rembulan dari jendela kamar kosnya.
“Kau yakin ingin menikah muda? Kau yakin pekerjaanmu sebagai guru
privat dan pengajar tetap di TPA itu bisa mencukupi kebuthannya kelak?, apa
kamu yakin wanita yang kau pilih ini sudah baik agamanya, nasab, jamal dan
maal-nya?” Ahlam tetap saja terdiam.
“Entahlah, Ris. Aku hanya yakin bahwa dengan menikah Allah akan
melimpahkan rizki kepada hamba-Nya. Bukankah indah hidup susah sederhana
disamping seorang istri tercinta?, kadang untuk bahagia itu tak perlu kaya,
Ris. Aku juga yakin, wanita itu juga sholihah” Faris terdiam, dan kemudian dia
tersenyum tipis sambil mengajak rambut sahabatnya yang sedang dirundu cinta
itu.
“Besok kamu temani aku ya?”
“Melamar dia maksudmu?” Faris yang ditanya mala kembali bertanya.
Demi mendengar itu muka Ahlam sempurna merah. Semerah udang rebus. Faris yang
semakin tak tahan melihat tingkah kasmaran sahabatnya yang menggelikan itu
semakin tertawa terbahak sambil menimpuk sahabatnya itu dengan bantal. Yang
ditimpuk tak terima dan terjadilah perang dunia bantal kesekian di kamar kos
itu. Malam harinya, Ahlam benar-benar tak kuasa mengejamkan matanya. Pikirannya
melayang. Tak berhenti dia panjatkan doa dan mendirikan sholat agar Sang Ilahi
mencerahkan jalan baginya besok. Saat lamaran.
Pagi telah datang, merayakan cahaya matahari yang berhasil
memenangkan peperangan dengan langit hitam malam. Saat yang mendebarkan dalam
hidup Ahlampun tiba. Lihatlah, kini pria berambut keriting dan berkulit hitam
itu sudah terlihat tampan dengan setelan jas yang dipinjamkan Faris kepadanya.
Sesampainya dirumah wanita yang akan dilamar tersebut. Dunia seakan
menyempit dan menjelma menjadi biji sawi bagi Ahlam. Lihatlah, tubuhnya diguyur
oleh keringat dingin. Wajahnya pucat. Bila tidak sedang lamaran dan sedang
berhadapan dengan wali yang akan dilamar, mungkin sejak tadi Faris akan
menimpuk sahabat terbaiknya itu dengan tas yang dibawanya sambil tertawa keras.
Tapi apa daya, kini Farispun ikut-ikutan tegang. Bahkan lebih tegang. Seperti
ada sesuatu yang disembunyikan Faris rapat-rapat dari sahabat terbaiknya,
Ahlam.
“Jadi, apa tujuan adek-adek bertandang ke rumah bapak?” tanya Bapak
dari calon yang akan dilamar. Demi mendengar itu jantung Ahlam berdetak semakin
kencang. Keringatnya semakin deras mengalir, wajahnya kini benar-benar
menyerupai zombie. Pucat.
“Sa, saya, saya ingin...ingin melamar anak Bapak. Aqilah.” Demi
mendengar itu Faris langsung mengalihkan
pandangan ke arah lukisan di dinding, ayah Aqilah memejamkan mata.
Sesekali dia mengelus jenggotnya yang panjang itu. Seulas senyum tersembul di
paras tuanya. Menyenangkan sekali melihat bentukan senyum dari orang tua itu.
“Anakku, cinta memang mendorong kita untuk memiliki orang yang kita
cintai. Dan sebaik-baik cara untuk memiliki cinta yang kita cintai adalah
seperti yang anakku lakukan saat ini. Yaitu melamar. Tanpa pacaran. Tapi, agama
juga telah membuat aturan tentang cinta anakku. Bahwa tidak boleh kita melamar
seseorang yang sudah dilamar oleh orang lain. Anakku, Aqilah Shaffiyah Abada
sudah dilamar oleh orang lain. Yaitu sahabat anakku sendiri, Faris Ahmadi
Fadhla, dan putriku telah menerimanya.” Faris langsung memeluk Ahlam erat. Yang
dipeluk hanya bisa merunduk menangis. Labt seperti sudah runtuh. Lautan sudah
melahap habis semua benua. Hancur. Kiamat. Itulah apa yang ada dalam balikan dada
seorang Ahlam saat itu. Air matanya teruntai deras, lebih deras dari keringat
dinginnya tadi.
“Kenapa kau tak bilang dari awal bahwa kau sudah melamarnya, heh?.
Tega sekali kau melakukan ini padaku, Faris. Kau seolah-olah mendukungku. Rapi
sekali sandiwaramu. Apa maksudmu melakukan ini semua kepadaku?” hujan diluar
menggelegar. Kini kamar kos itu tak lagi menjadi saksi ketengilan mereka. Mala
sebaliknya. Faris hanya bisa menangis, meminta maaf.
“Kau tahu, Ahlam?, aku sungguh tak tega mengatakannya padamu. Aku
tahu betul kau sangat mencintai Aqilah, kau tak pernah berhenti menceritakannya
padaku. Tak sampai hati aku mengatakan bahwa aku sudah melamarnya. Ayahku yang
mengantarkanku saat itu ke rumah Aqilah. Sungguh aku tak tahu gadis yang
kulamar saat itulah yang kau ceritakan. Aku tak tahu.” Hening. Hanya tangis.
Esok datang, tak ada yang bisa menjamin bahwa waktu bisa
menyembuhkan luka cinta, Bukan?. Sejak pernikahan Faris dan Aqilah, Ahlam
menghilang. Tak pamit. Hanya meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan “Aku
pergi”. Tak ada yang tahu kemana Ahlam pergi. Tidak teman-temannya, tidak
juga keluarganya.
***
“Kau masih mengingatnya, Bukan?, seluruh cerita cinta menyedihkanku
itu?” Pria berjaket bulu coklat itu hanya termenung. Mengangguk.
“Ahlam, maafkan aku.”
“Sudahlah, Faris. Aku sudah memaafkanmu. Meski kini luka itu belum
juga sembuh.” Hening. Hanya ada angin musim dingin Tokyo yang menusuk. Kawan,
cerita cinta ini telah berakhir. Sekian.
