Apa yang anda cari ?

konten dari Teknologi, Marketing, Adsense, Tips, Blogger, Keuangan, Jomblo dan lainnya
Ternyata, Sukses diawali dengan Huruf "S"

Sandiwara Kelabu


“Hai, Bagaimana kabarmu?, akhirnya kita bertemu heh.” Pria berjaket bulu coklat itu menyapa pria berjaket kulit panjang disebelahnya dengan kaku. Kikuk. Seperti seorang pria yang ingin melamar anak singa. Selanjutnya hanya hening. Hanya ada desir angin musim dingin yang sungguh sudah kelewat batas. Tokyo kini menjelma menjadi kota putih. Putih yang menusuk.
“Kenapa sejak pernikahanku kau menghilang, Ahlam ?” Pria berjaket bulu coklat itu kembali bertanya. Kini nadanya sedikit lebih santai. Namun, pria berjaket kulit itam panjang disampingnya masih mematung. Memandangi lautan manusia yang sibuk memerangi musim dingin dari atas jembatan layang tempat mereka kini berdiri.
“Kau tahu Faris, pertanyaanmu adalah retoris yang menusuk. Kau sendiri sudah tahu alasannya, Bukan?” jawab pria berjaket kulit hitam dengan penuh sinis. Campuran antara marah dan kecewa. Drama cinta memang tak selalu saja indah. Beberapa tahun yang lalu, dua pria ini, Ahlam dan Faris dipertemukan dalam satu pesantren kecil di kampung. Ketika itu umur mereka adalah 10 tahun.
Faris yang anak orang kaya kurang terbiasa dengan segala kesederhanaan yang ditawarkan pesantren untuk para tholibul ilmi-nya. Faris tak pernah mau makan makanan yang dimasak pesantren, di kelas Faris hanya terdiam dan sibuk menggambar ketika ustadz sedang menjelaskan. Dan pada malam harinya, Faris tak pernah tidur. Dia terus saja menangis menagisi perutnya yang lapar karena tak pernah dia isi dengan makanan. Bagaimana tidak?, dia tak prnah mau sesuappun makan makanan pesantren.
Ahlam, yang kebetulan satu asrama dengan Faris. Demi mendengar rengekan dan tangisan Faris langsung sigap bangun dan mendekati ranjang Faris. Duduklah Ahlam disamping Faris sambil mencoba menghiburnya.
“Hai, anak orang kaya. Siapa namamu?” tanya Ahlam polos sambil terus memandangi Faris yang masih sibuk dengan tangisnya.
“Apa kau lapar?” demi mendengar pertanyaan itu, Faris mengangguk sambil terus menangis. Sebenarnya mudah saja menebak penyebab munculnya tangis di wajah Faris. Lihatlah, sejak tadi dia terus memegangi perut mungilnya.
“Ayo ikut aku!” ajak Ahlam setengah berbisik. Dua anak mungil itupun menyeret langkah mereka pelan-pelan keluar asrama. Kemudian dengan sigap Ahlam membantu Faris menaiki tangga menuju atap asrama. Ya, disinilah akhir tujuan mereka berdua. Atap asrama. Apa yang mereka lakukan disini?, mudah saja. Pertama Ahlam akan menurunkan ember berisi yang diikat dengan katrol kearah abang-abang nasi goreng yang persis berada di balik pagar asrama. Jadi, dari atapnya satu-satunya jalan untuk bertransaksi dengan penjual nasi goreng tersebut. Tak beberapa lama, penjual nasi goreng tersebut pun menaruh sebungkus nasi goreng di ember yg terikat katrol dan dan Ahlam dengan sigap menariknya keatas.
“Ini, makanlah anak orang kaya.” Ucap Ahlam sambil menyerahkan sebungkus nasi goreng. Tanpa diperintah, dengan gesit nasi goreng itu dilahap habis oleh Faris. Rupanya anak ini benar-benar sangat kelaparan.
Dari atap asrama itulah, Ahlam dan Faris menjalin persahabatan. Tak ada waktu mereka habiskan kecuali berdua. Dan persahabatan itu berlangsung hingga masuk ke jenjang kuliah. Mereka pun mengambil jurusan yang sama di universitas ternama di Depok. Waktu terus bergulir bagai batu yang dilepas dari Gunung Himalaya. Batu itu akan terus melesat, hingga dia berhenti, kembali ke tempat titik akhir. Tanah. Kini, dua bersahabat itu menginjak semester akhir. Berkat kerja keras mereka berdua, sidang skripsi mereka lancar. Tiggal menunggu waktu wisuda saja. Bagi seorang mahasiswa, masa ini adalah aktu yang tepat untuk mencari kerja atau seorang pendamping sehidup semati.
“Kau yakin ingin melamarnya, Lam?” mendengar tanya Faris, Ahlam hanya termenung sambil menatap kosong rembulan dari jendela kamar kosnya.
“Kau yakin ingin menikah muda? Kau yakin pekerjaanmu sebagai guru privat dan pengajar tetap di TPA itu bisa mencukupi kebuthannya kelak?, apa kamu yakin wanita yang kau pilih ini sudah baik agamanya, nasab, jamal dan maal-nya?” Ahlam tetap saja terdiam.
“Entahlah, Ris. Aku hanya yakin bahwa dengan menikah Allah akan melimpahkan rizki kepada hamba-Nya. Bukankah indah hidup susah sederhana disamping seorang istri tercinta?, kadang untuk bahagia itu tak perlu kaya, Ris. Aku juga yakin, wanita itu juga sholihah” Faris terdiam, dan kemudian dia tersenyum tipis sambil mengajak rambut sahabatnya yang sedang dirundu cinta itu.
“Besok kamu temani aku ya?”
“Melamar dia maksudmu?” Faris yang ditanya mala kembali bertanya. Demi mendengar itu muka Ahlam sempurna merah. Semerah udang rebus. Faris yang semakin tak tahan melihat tingkah kasmaran sahabatnya yang menggelikan itu semakin tertawa terbahak sambil menimpuk sahabatnya itu dengan bantal. Yang ditimpuk tak terima dan terjadilah perang dunia bantal kesekian di kamar kos itu. Malam harinya, Ahlam benar-benar tak kuasa mengejamkan matanya. Pikirannya melayang. Tak berhenti dia panjatkan doa dan mendirikan sholat agar Sang Ilahi mencerahkan jalan baginya besok. Saat lamaran.
Pagi telah datang, merayakan cahaya matahari yang berhasil memenangkan peperangan dengan langit hitam malam. Saat yang mendebarkan dalam hidup Ahlampun tiba. Lihatlah, kini pria berambut keriting dan berkulit hitam itu sudah terlihat tampan dengan setelan jas yang dipinjamkan Faris kepadanya.
Sesampainya dirumah wanita yang akan dilamar tersebut. Dunia seakan menyempit dan menjelma menjadi biji sawi bagi Ahlam. Lihatlah, tubuhnya diguyur oleh keringat dingin. Wajahnya pucat. Bila tidak sedang lamaran dan sedang berhadapan dengan wali yang akan dilamar, mungkin sejak tadi Faris akan menimpuk sahabat terbaiknya itu dengan tas yang dibawanya sambil tertawa keras. Tapi apa daya, kini Farispun ikut-ikutan tegang. Bahkan lebih tegang. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan Faris rapat-rapat dari sahabat terbaiknya, Ahlam.
“Jadi, apa tujuan adek-adek bertandang ke rumah bapak?” tanya Bapak dari calon yang akan dilamar. Demi mendengar itu jantung Ahlam berdetak semakin kencang. Keringatnya semakin deras mengalir, wajahnya kini benar-benar menyerupai zombie. Pucat.
“Sa, saya, saya ingin...ingin melamar anak Bapak. Aqilah.” Demi mendengar itu Faris langsung mengalihkan  pandangan ke arah lukisan di dinding, ayah Aqilah memejamkan mata. Sesekali dia mengelus jenggotnya yang panjang itu. Seulas senyum tersembul di paras tuanya. Menyenangkan sekali melihat bentukan senyum dari orang tua itu.
“Anakku, cinta memang mendorong kita untuk memiliki orang yang kita cintai. Dan sebaik-baik cara untuk memiliki cinta yang kita cintai adalah seperti yang anakku lakukan saat ini. Yaitu melamar. Tanpa pacaran. Tapi, agama juga telah membuat aturan tentang cinta anakku. Bahwa tidak boleh kita melamar seseorang yang sudah dilamar oleh orang lain. Anakku, Aqilah Shaffiyah Abada sudah dilamar oleh orang lain. Yaitu sahabat anakku sendiri, Faris Ahmadi Fadhla, dan putriku telah menerimanya.” Faris langsung memeluk Ahlam erat. Yang dipeluk hanya bisa merunduk menangis. Labt seperti sudah runtuh. Lautan sudah melahap habis semua benua. Hancur. Kiamat. Itulah apa yang ada dalam balikan dada seorang Ahlam saat itu. Air matanya teruntai deras, lebih deras dari keringat dinginnya tadi.
“Kenapa kau tak bilang dari awal bahwa kau sudah melamarnya, heh?. Tega sekali kau melakukan ini padaku, Faris. Kau seolah-olah mendukungku. Rapi sekali sandiwaramu. Apa maksudmu melakukan ini semua kepadaku?” hujan diluar menggelegar. Kini kamar kos itu tak lagi menjadi saksi ketengilan mereka. Mala sebaliknya. Faris hanya bisa menangis, meminta maaf.
“Kau tahu, Ahlam?, aku sungguh tak tega mengatakannya padamu. Aku tahu betul kau sangat mencintai Aqilah, kau tak pernah berhenti menceritakannya padaku. Tak sampai hati aku mengatakan bahwa aku sudah melamarnya. Ayahku yang mengantarkanku saat itu ke rumah Aqilah. Sungguh aku tak tahu gadis yang kulamar saat itulah yang kau ceritakan. Aku tak tahu.” Hening. Hanya tangis.
Esok datang, tak ada yang bisa menjamin bahwa waktu bisa menyembuhkan luka cinta, Bukan?. Sejak pernikahan Faris dan Aqilah, Ahlam menghilang. Tak pamit. Hanya meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan “Aku pergi”. Tak ada yang tahu kemana Ahlam pergi. Tidak teman-temannya, tidak juga keluarganya.
                                                                   ***
“Kau masih mengingatnya, Bukan?, seluruh cerita cinta menyedihkanku itu?” Pria berjaket bulu coklat itu hanya termenung. Mengangguk.
“Ahlam, maafkan aku.”
“Sudahlah, Faris. Aku sudah memaafkanmu. Meski kini luka itu belum juga sembuh.” Hening. Hanya ada angin musim dingin Tokyo yang menusuk. Kawan, cerita cinta ini telah berakhir. Sekian.



7 Artikel Untuk Anda

Edit Post

Powered by Blogger - Template CaraSehat.Me