Hidup di
Indonesia memang gampang-gampang susah, Gan. Tapi tau gak sih lu
kalo ternyata hidup di negeri merah putih ini lebih banyak susahnya, lu
ngerasain gak sih?. Hidup di Indonesia itu memang banyak cobaannya, harus
banyak-banyak sabar. Nah, buktinya apa? Lu jangan asal nulis aja?
Eiitss, santai bro, di sini bakal aku ulas kesabaran-kesabaran
kita sebagai rakyat Negara Indonesia hiks hiks. Poin pertama dari bejibun
kesabaran kita sebagai rakyat Indonesia adalah..jeng jeng. Aku mau nanya
dulu dah, coba berapa tahun kita sudah dijajah oleh negara kompeni
yang bahasa kerennya adalah Belanda? Hayoo..siapa yang tahu?? Nanti kakak
kasih permen lho adik-adik? (eh, salah fokus, gue siapa ya? Jangan jangan?
#edisi_sinetron).
Menurut
catatan sejarah (husshh, guru sejarah sedang jelasin). Negara kita
‘tercinta’ ini dijajah oleh Belanda sudah 3,5 abad alias 350 tahun alias sekian
bulan (itung sendiri). Lama gak
tuh?, yang bilang gak lama RSJ masih buka gan hehehe.
Dan sekarang
eike eh maksudnya saya mau
tanya arti artikel berikut:
“De
16-jarige Cass trekt op de fiets van Oost naar West-Amerika. In een bakje heeft
ze de as van Julia bij zich, haar beste vriendin die is overleden bij een
ongeluk. Julia en Cass zouden samen fietsen, nu is het een poging om het
verlies te verwerken en te begrijpen wat de relatie met Julia precies voor Cass
inhield. De opvallende titel sluit goed aan op de inhoud, want het gaat niet
alleen over Cass' fietstocht maar ook over het heden, waarin ze met de
toneelgroep van Julia de musical op poten zet die Julia heeft geschreven. Cass
probeert te doorgronden of Julia's vrienden ook die van haar zijn of dat Julia
het enige is dat hen bindt. Gaandeweg het verhaal wordt steeds duidelijker dat
Cass worstelt met haar seksuele identiteit, een proces waarin ze wordt gesteund
door voormalig vijandin Heather. Het verhaal heeft een duidelijke structuur in
'toen en nu'-hoofdstukken die elkaar mooi aanvullen en waarin de lezer niet
alleen Cass, maar zeker ook Julia goed leert kennen. Een aangrijpende roman
over rouwverwerking en seksualiteit. Kleine druk, vette letter, wat goedkoop
ogende uitgave. Vanaf ca. 15 jaar”.
Ada yang tahu artinya? (anak
sastra yang tahu diharap diam)?
Nah, sekarang. Tahukah kalian
bahwa sudah sekian lama kita dijajah oleh Belanda namun kita tak juga menguasai
Bahasa Belanda. Padahal, mustahil pribumi saat itu tak mendengar percakapan
para penjajah. Kita bandingkan dnegan negara-negara yang pernah dijajah
lainnya, Malaysia misalnya, negara tersebut dijajah Inggris selama 999 tahun
alias seabad tak sampai. Tapi, tahukah kalian bahwa negara Malaysia Bahasa
Inggris menjadi bahasa kedua mereka?, begitupun dengan India, dll. Sayang sekali
ya kenapa Indonesia tak dijajah Inggris saja? Kan kita tak usah repot-repot
ikut kurus eh kursus maksudnya.
Apa sebabnya? menurut catatan
sejarah. Negara-negara yang mempunyai Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua
memang berkomitmen untuk mempertahankan bahasa penjajah. Namun, sombongnya
Indonesia malah menghilangkannya, enggan belajar dan bahkan dilarang. Dan mungkin
gambar di bawah ini bisa menjadi bukti.
Nah, gimana? Udah sebel
belum? Sabar ya jadi orang Indonesia
hehehehehe

